Senin, 06 Desember 2010

Sampai saat ini, penyebaran HIV/AIDS di Indonesia masih berlangsung pesat dan sulit ditanggulangi. Data hasil surveilans sentinel Departemen Kesehatan sari tahun ke tahun menunjukkan terjadinya peningkatan jumlah kasus HIV positif baik di kota maupun di kota kecil bahkan di pedesaan terutama di Papua. Di provinsi ini bahkan epidemic sudah cenderung memasuki populasi umum (generalized epidemic).
Yang lebih mengkhawatirkan, distibusi umur penderita AIDS memperlihatkan tingginya persentase jumlah usia muda dan jumlah usia anak. Penderita dari golongan umur 20-29 tahun mencapai 54,77%, dan bila digabung dengan golongan sampai 49 tahun, maka angka menjadi 89,37%. Sementara persentase anak 5 tahun kebawah mencapai 1,22%.


sumber gambar: eff3ndy.student.umm.ac.id

Bila ditanya apa penyebab hal ini, jawabannya bisa sangat banyak. Namun salah satunya, dan barangkali yang paling utama, hal ini disebabkan karena minimnya informasi tantang HIV/AIDS yang dipahami masyarakat. Misalnya di Papua, warga akan serius berobat kalau mereka sakit malaria; tapi mereka malah bersikap acuh walaupun tahu mereka mengidap HIV/AIDS (Kompas, 24 mei 2004).
Meski begitu, penyebaran HIV/AIDS bukan hal yang mustahil dilawan.

Tidak banyak yang tahu bahwa di dunia ada satu negara yang telah sukses menekan persebaran HIV di wilayahnya dan meminimalisir jumlah penduduknya yang menidap AIDS. Adalah Uganda yang telah dengan gigih mengupayakan agar keadaan negaranya tidak semakin terpuruk oleh serangan virus yang merajalela ini. Adalah Uganda yang berjuang keras di tengah makin populernya seks bebas dan makin mudahnya mendapatkan narkoba. Juga adalah Uganda yang semenjak tahun 2004 menjadi contoh bagi negara-negara lain di dunia berkat prestasinya menekan jumlah ODHA secara drastis.

Yang menjadi kunci utama keberhasilan Uganda ada dua, yaitu:
Pertama, pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS. Ini merupakan hasil dari penyuluhan intensif yang mencakup semua kalangan, mencapai semua penjuru. Data menunjukkan bahwa kin 82% wanita Uganda telah mengenal HIV/AIDS dan tahu bagaimana menyikapinya.
Kedua, pengetahuan masyarakat tentang siapa yang mengidap HIV/AIDS. Teridentifikasinya seseorang sebagai ODHA bukan berarti ia akan didiskriminasi, tapi tak lebih agar ini menjadi peringatan bagi orang-orang di sekitarnya. Di sini dituntut adanya keterbukaan diri para ODHA, serta adanya jaminan perlindungan ODHA dari diskriminasi lingkungan.

Itu kisah sukses Uganda. Bagaimana dengan Indonesia?
Barangkali pemerintah kita bisa meniru Uganda. Perlu segera diadakan penyuluhan menyeluruh kepada masyarakat mengenai HIV/AIDS, bahayanya, pencegahannya, kondisi terapi dan vaksinasi yang tersedia saat ini, serta bagaimana seharusnya memperlakukan ODHA dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukan cuma tugas KPA (Komisi Penanggulangan AIDS), tapi juga tugas semua pihak karena masalah ini tidak berdiri sendiri melainkan bersangkut-paut dengan masalah sosial lain di masyarakat kita.

Sebenarnya, kita tidak perlu takut berhubungan dengan ODHA. HIV tidak menular melalui kontak sosial seperti bersalaman, menggunakan fasilitas umum bersama, berenang bersama, atau semacamnya. Bahkan berciuman dengan penderita HIV/AIDS juga tidak akan menyebabkan penularan asal tidak ada luka seperti sariawan dan sebagainya. Kita harus tetap menjaga hubungan baik dengan mereka, dan terus menyemangati mereka untuk selalu menjaga kesehatan.
Saat ini, hidup dengan ODHA sebagai pasangan suami istri juga sudah memungkinkan. Sudah ada metode untuk menekan virus HIV dalam tubuh penderitanya. Bahkan pasangan ODHA juga bisa hamil dan melahirkan dengan baik. Syaratnya ialah disiplin dalam menjalani pengobatan dan terapi. Resiko bayi terinfeksi juga dapat diperkecil dari 3% melalui persalinan normal, menjadi 0,03% melalui caesar.

Pada akhirnya, kita harus bisa memahami bahwa HIV/AIDS memang menakutkan dan perlu diperangi, tetapi ODHA adalah orang-orang yang juga merupakan bagian dari masyarakat kita yang perlu dibantu.
Semoga saja di masa depan, Indonesia bisa menjadi tempat yang lebih baik dan lebih sehat.
Semoga.


sumber gambar: deagendyna.blogspot.com

Rabu, 17 November 2010

Dalam rangka memahami karya sastra, muncul berbagai pendekatan (approach) dan teori. Pada tataran praktis, pendekatan dan teori ini mewujud ke dalam mode tulisan yang dikenal sebagai kritik sastra (Literary Criticism). Masing-masing kritik pada dasarnya mengajak kita untuk melihat suatu karya dengan perspektif (cara pandang) tertentu, yang biasanya berbeda jauh dari dari perspektif awam, dan bisa dianggap radikal. Karena adanya perspektif yang berbeda-beda, satu karya dapat dipahami secara berbeda-beda pula.

Hal yang saya sebutkan di atas mungkin sudah diketahui oleh masyarakat luas. Hanya saja masih banyak di antara kita yang belum menyadari, bahwa cara pandang dalam kritik sastra sebenarnya tidak hanya terbatas untuk memahami karya sastra saja. Lebih dari itu, cara pandang (dan juga cara pikir) tersebut bisa kita pakai untuk memahami semua fenomena sosial-budaya yang kita hadapi. Termasuk juga untuk memahami kejadian-kejadian yang tampak remeh dalam kehidupan kita sehari-hari.

Berikut sebuah contoh menarik dihadirkan oleh Muhammad Adek, salah satu Kawan Cermin yang gemar berbagi pandangannya tentang Kesusastraan.


Love Triangle Criticism!
-->
Kasus : 2 orang sahabat, A dan B, sama-sama menyukai wanita, X. A lebih dahulu menyukai X, B kemudian juga menyukai X
Konflik : A merasa B mengganggu perjuangan cintanya (competitor-red), dan mulai berpandangan bahwa B melanggar nilai-nilai moral persahabatan. Menurut A, seharusnya B menunggu A dulu dalam memperjuangkan cintanya pada X, kalau gagal, B baru boleh maju. Tetapi B tidak mengindahkan nilai-nilai tersebut dan tetap membabi-buta mengejar X
Klimax : Waktu pun memutuskan bahwa X lebih memilih B. A kecewa berat. A memvonis B sebagai dalang atas segala kegagalannya. B di cap sebagai pengkhianat. Pagar makan tananan! Menggunting dalam lipatan. Akhirnya persahabatan A dan B pupus sudah.
Kesimpulan Umum : A secara moral menempatkan B sebagai pihak yang bersalah, benar-benar bersalah secara total. B, tersangka satu-satunya yang menghancurkan segala mimpi-mimpi yang dirajut A kepada X. B adalah pengkhianat!
Kritik Sastra : Idealnya sebagian orang berfikiran seperti itu, tapi di dunia kritik sastra, kita diajarkan untuk berfikir dan menilai satu kasus dari berbagai macam sudut pandang. Dan sastrapun menilai :
1. A melukai kaidah cinta yang semestinya. Cinta, pada hakikatnya bersifat tidak rasional.Tapi A berusaha merasionalkan cinta B pada X, dengan alasan nilai-nilai moral dan persahabatan yang dijunjungnya, menempatkan B pada pihak yang bersalah secara moral dan dihakimi sebagai pengkhianat teman. (Deconstruction)
2. A secara tidak langsung telah menggangap X sebagai barang yang seenaknya saja bisa digilir dan dipindah tangankan(Comodification). Ini merupakan salah satu cikal bakal kapitalisme yang tumbuh didalam otak manusia. Di sini kita dapat mempertanyakan kesucian cinta A pada X. Apakah benar-benar cinta atau hanya dijadikan alat-alat pencapai keinginan? (Marxist Criticsism)
3. X, sebagai wanita dapat memutuskan yang mana pilihan yang terbaik untuknya. X menyadari betul persahabatan yang terjalin antara A dan B, dan norma-norma yang berlaku dilingkungannya seakan menekan dirinya sehabis-habisnya, untuk menerima saja apa yang ada dihadapannya. Tapi X melawan mainstream yang ada dan memutuskan memilih B, sebagai kekasih hatinya. Di kasus ini, X telah mewujudkan suatu kebebasan berfikir dan bertindak seorang wanita yang merdeka (walaupun tidak sepenuhnya) dengan melawan kewajaran yang di anggapnya tidak wajar untuk dirinya. (Feminist Criticism).
Kenapa sastra mengajarkan kita berfikir secara radikal ? Saya hanya tersenyum untuk menanggapinya. Dan kemudian falasah lama pun meluncur :
"Your beliefs are stronger when they are challanged."

Senin, 11 Oktober 2010

Oleh Hangga Prasetya

sebelumnya dipublikasikan pada
07 October 2010 pukul 02:21

Imagi selayang pandang
Selayang pandang ku pandang-pandang
Wanita elok nan rupawan lenggak-lenggok di dalam kaca
Selayang pandang ku pandang-pandang,
Pria elok nan binaragarawan lenggak-lenggok di dalam kaca
Wanita itu putih, bersih, rambut lurus, badan langsing;
Tubuhnya atletis, enam lekukan di perutnya, rautan Eropa merona di wajahnya
Selayang pandang ku pandang pandang
Banyak wanita sedang melenggak lenggok pula di luar kaca
Berharap bisa melenggok pula di dalam kaca
Banyak pria mencoba mem-binaragarawankan badannya di luar kaca
Ingin seperti pria dalam kaca

Imaji selayang pandang
Hanya untuk dipandang-pandang
Hanya dipandang
Pencuri Api, 071010


Puisi ini telah mengalami proses editing oleh admin Cermin Community. Untuk melihat versi awal dari tulisan ini, silahkan kunjungi laman ini.



Catatan Editor
oleh T. S. Frima

Sosiologi Sastra (Sociology of Literature) adalah istilah luas yang memayungi semua teori yang menekankan pengaruh timbal-balik antara masyarakat dan karya sastra. Kritik sastra Marxis juga secara tradisional sering dikategorikan sebagai Sosiologi Sastra (sebagaimana termuat dalam Glossary of Literary Terms oleh M.H. Abrams). Namun, hal ini tidak sepenuhnya tepat.

Sejumlah kritikus sastra Marxis sendiri menyatakan penolakan pengkategorian tersebut. Mereka beranggapann bahwa Sosiologi Sastra cenderung bersifat deskriptif dan hanya terbatas pada upaya menggambarkan hubungan antara masayarakat dan sastra. Padahal, menurut mereka kritik sastra Marxis adalah sebuah bentuk perjuangan yang mengandung elemen kritis dan emansipatoris.

Sebagai contoh penerapan, mari kita telaah puisi berjudul Selayang Pandang karya Hangga Prasetya di atas.

Dari puisi tersebut, pembaca akan mendapati kalimat-kalimat verbal yang menggambarkan prilaku pria dan wanita sebagaimana diindra oleh aku-lirik. Puisi ini diawali dengan aku-lirik yang menyaksikan pria dan wanita berpenampilan menarik melenggok dalam sebuah acara televisi. Selanjutnya aku-lirik menyaksikan banyak pria dan wanita di luar kaca (yaitu di dunia nyata) yang berusaha meniru sosok pria dan wanita di dalam televisi tadi. Kemudian puisi diakhiri dengan bait berisi tiga baris yang mengulang kata ‘-pandang’ (‘selayang-pandang’, ‘dipandang-pandang’ dan ‘untuk dipandang’).


Bila mencoba menerapkan telaah Sosiologi Sastra, ada banyak pendekatan yang bisa dipakai. Misalnya dengan pendekatan tradisional Historis-Biografis (Historical-Biographical Approach), kita dapat menyoroti apakah muatan puisi ini ada hubungannya dengan pengalaman pribadi (biografi) penulis, atau apakah isi puisi ini berangkat dari keadaan nyata sesuai dengan yang sedang berlaku pada waktu puisi ini dibuat.

Mula-mula, akan dilihat bahwa puisi ini dibuat pada tahun 2010 oleh seorang pemuda usia dua puluh tahunan. Lalu akan dilihat pula bahwa tayangan televisi di Indonesia dalam kurun 5-10 tahun ke belakang didominasi oleh berbagai reality show; mulai dari ajang pencarian pelawak, pencarian pasangan mama dan anak berbakat, pencarian pedangdut, idola pop, pesulap, model iklan deodorant, model sampul majalah remaja sampai ke pencarian orang ndeso yang mirip artis bahkan juga pencarian jodoh. Berbagai ajang tersebut pun selalu mengekspos penampilan dan fisik para pesertanya disamping mencari kemampuannya (kalau ada).

Lebih jauh lagi, akan dilihat pula bagaimana masyarakat awam yang selalu menjadikan televisi sebagai kiblat secara membabibuta meniru semua yang ditayangkan di layar kaca. Busana yang dipakai oleh orang di tayangan musik akan diborong, kata-kata dramatis yang diucapkan orang di sinetron akan dikutip, junk food yang dimakan orang di iklan akan diburu, lantas bentuk tubuh yang dipamerkan dalam tayangan televisi pun akan diidolakan.

Akhirnya, pendekatan ini akan menyimpulkan bahwa puisi Selayang Pandang memang benar berangkat dari kenyataan yang berlaku di masyarakat di mana penulisnya hidup; atau ringkasnya, sebuah potret dari fenomena sosial-budaya masa kini.


Namun dalam kritik sastra marxis, telaah tidak berhenti sampai di sana.

Misalnya, bila kita memakai kritik sastra marxis dengan modul Teori Refleksi (sebagaimana diperkenalkan Lukacks), teks harus dilihat sebagai refleksi realita sosial dalam sistem ekonomi tertentu. Dalam hal ini, puisi Selayang Pandang sekurangnya dapat disoroti dari aspek-aspek sebagai berikut:


1. Dominasi kelas dan ketidak-adilan
Baris ke-tiga berbunyi “wanita elok nan rupawan”, sedang baris ke-limanya berbunyi “pria elok yang binaragawan”. Kata-kata ini menunjukkan bagaimana nilai manusia ditentukan oleh wajah dan bentuk tubuh. Tidak lagi penting apakah anda rajin, soleh, ramah atau cerdas; pokoknya anda tidak akan dianggap elok jika wajah dan tubuh anda tidak menarik.

Selanjutnya baris ke-enam dan ke-tujuh yang berbunyi “Wanita itu putih, bersih, rambut lurus, badan langsing;/ Tubuhnya atletis, enam lekukan di perutnya, rautan Eropa merona di wajahnya/” memberi penegasan akan batasan penilaian akan elok-tidaknya seseorang. Kalau seorang wanita harus berkulit putih dan berambut lurus untuk dianggap elok, bagaimana dengan wanita kaum buruh dan tani yang kulitnya gelap sebab mesti berselimut debu tiap hari, bagaimana wanita yang tidak mampu ke salon untuk rebounding atau sekedar beli conditioner botolan? Kalau seorang pria harus berwajah mirip bule dan berbadan atletis untuk dianggap elok, bagaimana dengan kebanyakan rakyat Negara ini yang asli keturunan pribumi, yang makan dua kali sehari saja susah sehingga badannya tidak berotot?

Maka puisi ini adalah potret dominasi kaum kelas atas. Begitu berkuasanya mereka sampai-sampai standar nilai manusia pun mereka yang menentukan—yaitu yang sesuai dengan kehendak mereka. Dan bukankah diskriminasi berdasarkan ciri fisik itu sebuah bentuk ketidak-adilan.


2. Komodifikasi manusia
Tayangan televisi mengundang orang-orang untuk beramai-ramai berpartisipasi di dalamnya dengan iming-iming hadiah besar serta popularitas instant. Baris ke-sembilan dan ke-sepuluh yang berbunyi “Banyak wanita sedang melenggak lenggok pula di luar kaca,/ Berharap bisa melenggok pula di dalam kaca” menunjukkan bahwa masyarakat dengan mudahnya terpancing dan berlomba-lomba untuk dapat mengikuti acara tersebut, atau untuk sekedar tampil di layar kaca.

Padahal dalam tayangan itu, para peserta dieksploitasi sedemikian rupa untuk menaikan rating. Masih kita ingat bagaimana acara pencarian pasangan mama dan anak berbakat yang mengalokasiakan 15 menit untuk membodoh-bodohi mamanya; atau bagaimana para kontestan dalam ajang pencarian idola pop yang tinggal serumah selalu disoroti saat-saat mereka bertengkar dan menangis, sesi komentar (biarpun komentar itu ngawur dan mengundang cemooh penonton) pada saat penampilan pun biasanya lebih lama daripada sesi unjuk kebolehannya. Semua itu agar kemudian pihak penyelenggara bisa meraup untung sebesar-besarnya dari pemasang iklan. Dengan kata lain, manusia telah dijadikan komoditas ekonomi dalam bisnis pertelevisian dan dunia hiburan. Bagitu satu musim selesai, nilai jual manusia itupun habis dan ia segera dilupakan. Lalu ribuan manusia lain antri untuk dijual di musim berikutnya lewat layar kaca.


3. Efek negative dari sistem yang berlaku
System yang berlaku adalah system yang dibuat oleh kelas dominan; yaitu kapitalisme. System ini memposisikan kaum lemah sebagai objek belaka, untuk dieksploitasi dan dimanipulasi sedemikian rupa demi memberi keuntungan yang sebesar-besarnya bagi kaum dominan.

Demi mempertahankan system ini, masyarkat diperbodoh dan dibutakan dari kenyataan. Misalnya melaui sinetron yang selalu menawarkan happy ending dan ajang pencarian bakat yang mengumbar mimpi. Ini disediakan sebagai pelarian bagi kelas lemah sekaligus sebagai media pendoktrin untuk menamkan sifat konsumerisme. Puisi ini menyiratkan betapa tayangan televisi membuat masyarakat berpikir bahwa wanita harus putih untuk menjadi cantik, maka belilah lotion pemutih berbagai merek; bahwa lelaki harus atletis untuk menjadi keren, maka pergilah ke gym dan minum susu tinggi protein dan kalsium; bahwa seseorang harus populer untuk bahagia, maka halalkanlah segala cara demi popularitas.

Baris ke-dua dari akhir puisi ini yang menekankan pada kata “hanya untuk dipandang” menyiratkan bahwa semua yang ditawarkan oleh televisi sebagai media doktrin kapitalis adalah kesemuan semata. Kebahagian dan kepuasan yang ditawarkan hanyalah sebatas imaji(nasi). Dapat pula kita tangkap nuansa keterasingan yang dirasakan aku-lirik dari kata “hanya dipandang” sebagai penutup puisi ini. Keterasingan yang lahir saat melihat orang-orang disekitar kita berubah, membuang kepribadian dan harga dirinya demi menjadi seperti tokoh pujaan di layar kaca.


Sebagaimana disebutkan di atas, yang menjadi fitur utama dari Kritik Sastra Marxis adalah elemen kritisnya terhadap hegemoni yang berlangsung dalam masyarakat; terhadap system kapitalisme kompetitif yang memicu pertikaian, melahirkan individualisme, alienasi dan keburukan lainnya (terutama buruk dari sudut pandang kaum yang lemah). Tidak kalah penting juga, elemen emansipatorisnya yang menuntut kesetaraan perlakuan serta kesamaan hak dan derajat antara kaum dominan dan kaum lemah. Pada akhirnya, Kritik Sastra Marxis akan menyimpulkan bahwa puisi Selayang Pandang ini sebagai karya progresif, karya yang menentang kapitalisme yang hanya menawarkan kebahagiaan imajiner, semu dan sesaat.


Referensi: Handout for LC II class by Pak Gindho Rizano

Sabtu, 02 Oktober 2010


-->
oleh Thiska Septa Maiza

sebelumnya dipublikasikan pada
05 May 2010 at 00:44

Jika hari ini adalah penyudahan
maka aku akan sangat merindu
pada matahari yang bersinar
dan hari-hari yang diteranginya;


Maka dengarkanlah wahai hati yang membeku,
aku dan rindu telah terpisah jauh dalam jeda,
telah lelah diri berpura-pura,
terkikis habis semua daya.


Jika hari ini adalah penyudahan
maka biarkan aku melebur
dalam hitam legam udara malam.




-->
Catatan editor
oleh T. S. Frima

Sebagaimana yang jamak terjadi, bila dalam sebuah produksi kuantitas meningkat, kualitas akan cenderung menurun sebagai kompensasinya. Hal ini pun bisa berlaku dalam menulis. Semakin banyak karya yang dibuat oleh seorang penulis dalam rentang waktu yang singkat, semakin besar kemungkinan ia terjebak pada jejak nuansa karya-karya sebelumnya, sehingga diksinya menjadi tumpul. Meskipun begitu, di sisi lain produktifitas yang tinggi bisa juga disamakan dengan upaya berlatih yang giat. Dan semakin seseorang terlatih atau terbiasa mengerjakan sesuatu, intuisinya akan aspek-aspek tertentu dari pekerjaan itu akan semakin tumbuh.
Thiska Septa Maiza adalah seorang penulis yang sangat produktif—setidaknya dibandingkan rekan-rekannya. Dalam rentang satu semester, dia bisa menyelesaikan belasan atau bahkan puluhan fiksi dan puisi. Jelaslah bahwa ia seorang yang bergaya hard work-er. Sekarang mari kita telaah salah satu puisinya yang berjudul Jika.

Dari segi judul, meletakkan kata ‘jika’ sungguh tindakan yang cerdik untuk menarik perhatian pembaca. Kata ‘jika’ adalah gerbang bagi hal-hal yang belum terjadi, tetapi sudah diandaikan terjadi. Ketika melihat judulnya, pembaca menjadi penasaran akan objek yang diandaikan, dan menanti ‘maka’ apa yang tersedia sebagai kelanjutannya.
Tapi sayang sekali ternyata bait-bait sebagai tubuh sajak ini tak mampu mempertahankan rasa penasaran itu dalam benak pembaca.
Bait pertama langsung menyuguhkan pernyataan verbal, yang sudah pasti diinsafi semua orang. Meskipun kata-kata ‘jika hari ini adalah penyudahan/ maka aku akan sangat rindu/ pada matahari yang bersinar/ dan hari-hari yang diteranginya’ bisa merujuk pada macam-macam akhir, namun logika kalimatnya terlalu gamblang dan tidak membutuhkan penafsiran. Bukankah bagi siapapun, jika ini hari terakhir dari sesuatu, ia pasti akan merindukan hari-hari yang lalu saat sesuatu itu berlangsung?

Bait kedua dituliskan dengan cukup baik dengan menggunakan beberapa jenis majas. Baris pertamanya yang berbunyi ‘maka dengarlah wahai hati yang membeku,’ memakai gaya apostrophe; yaitu gaya yang menyebut sebuah benda seakan subjek dalam puisi sedang berbicara padanya secara langsung, seakan-akan benda itu adalah orang yang bisa diajak berbicara. Baris ke-dua memakai majas personifikasi. Dalam kalimat ‘aku dan rindu telah terpisah jauh’, rindu seakan-akan adalah orang yang setara dengan ‘aku’.
Sayangnya bait ini juga memuat death metaphor, yaitu metaphor yang telah kehilangan nilai figuratinya karena sudah terlalu biasa dipakai. Kata-kata ‘telah habis semua daya’ adalah kata-kata yang sudah sangat umum dipakai, tidak hanya dalam puisi tetapi juga dalam lirik lagu.
Begitupun dalam baris terakhir bait terakhir, kata-kata ‘hitam legam’ dan ‘malam’ juga sudah terlalu sering dipakai secara serangkai, sehingga kemunculannya sebagai satu baris dapat memicu kebosanan.

Sebenarnya puisi ini cukup kuat dalam hal tema dan nuansa. Pengandaian dan sikap melankolis seseorang saat menghadapi suatu akhir adalah hal universal yang dapat menyentuh perasaan siapa saja. Apakah itu akhir hidup, akhir penantian, ataukah akhir kebersamaan? Terlepas dari isinya, tampak bahwa penulis memiliki intuisi yang peka dalam memilih tema dan nuansa. Namun bagaimanapun, intuisi saja tidak cukup. Ketumpulan dalam mengatur diksi justru akan merusak tema menjadi hambar dan mengesankan kedangkalan pada nuansa yang coba dibangun. Itulah sebab, alangkah baiknya seorang penulis berlatih secara proporsional, berimbang dan teratur, sehingga tidak hanya intuisinya terbangun tetapi juga keterampilannya terasah.

Tulisan ini telah mengalami proses editing oleh admin Cermin Community. Untuk melihat versi awal dari tulisan ini, silahkan kunjungi laman ini.

Rabu, 29 September 2010


-->
Oleh T. S.Frima
Sebelumnya dipublikasikan pada
19 September 2010


Kamu berdiri di sana,
Di belakang kilauan maya yang datang entah dari mana.
Tak hirau pada ranting-ranting yang merangas,
Kulihat kamu memandangi tangan sendiri, bertanya:
Bisakah Ia, kemilau itu, digenggam?
Dalam tertegun-mu, waktu berlalu
Dan dengan angkuhnya kamu percaya, bahwa kamu bisa selamanya ada di sana:
Terus bertanya-tanya.


Apakah hujan, ataukah salju,
Kemurnian alam yang dingin menerjangmu
Mengantarmu pada hidup yang rapih:
Lingkaran sempurna yang menghampar,
Yang sama sekali tak bisa kujejaki.

Dan di langitmu selengkung senyum memancar;
Sekali lagi kamu bertanya: bisakah Ia kamu petik?
Sedang bagiku semuanya adalah anomali.

Malam menjelang, kelip menggugus.
Tak bisa kubedakan, mereka gemintang atau pendar lampu jalan.
Namun pada gugusan yang sejernih cermin itu
Terpantul wajah yang pernah kita kenal.
Hanya saja bagimu, saat ini semuanya asing;
Seluruh malam telah disusupi aura yang aneh,
Semacam kabut samar-tipis, menyelip diantara laut dan langit.
Cahaya dan Kegelapan telah memudar bersamaan.


Kamu masih berdiri di sana,
Di dermaga tua yang melapuk—melepas nyawa.
Tumpuannya telah runtuh di kaki fajar, meninggalkan lembar-lembar papan hanyut;
Sisa-sisa impianmu pun tenggelam;
Dan surya mengakhiri semuanya.
Semuanya, Ren.



Catatan:
Tulisan ini telah mengalami proses editing oleh admin Cermin Community, dengan persetujuan penulis aslinya.

Sabtu, 25 September 2010

Menjelajah atau liburan dengan bermodal ransel dan dana minimal, yang populer disebut sebagai backpacking ternyata kini semakin digandrungi. Komunitasnya tumbuh mendunia dan forum-forum diskusinya subur berkembang bak cendawan di musim hujan. Rupanya kegiatan yang satu ini memang murah meriah, menantang dan mengasyikkan. Tapi, bagaimana sebenarnya asal-usul backpacking?

Pada 1970-an, ketika kaum Hippie sedang berkembang, mereka melakukan perjalanan menyebrangi benua Eropa. Mereka menelusuri Eropa sampai ke kota-kota tua Asia dengan tujuan mencari Tuhan, menemukan diri sendiri dan berinteraksi dengan orang lain. Konon yang mengilhami perjalanan mereka adalah sejarah ekspedisi perdagangan Jalur Sutra. Ekspedisi itu mengambil rute menyebrangi Mesir, Mesopotamia, Persia, India sampai ke Cina.
Para kafilah pada masa itu tidak hanya melakukan perdagangan tetapi juga penyebaran agama dan pertukaran budaya.


Selain latar belakang tersebut, sejarah travelling kerap menyebut nama Giovan Francesco Gamelli Careri. Ia dikenal sebagai backpacker pertama. Giovan adalah seorang warga Italia yang bekerja di sebuah pengadilan. Merasa tak puas dengan hidupnya dan dipicu oleh rasa ingin tahu yang besar, Giovan berhasrat menjelajahi dunia dalam rangka menemukan hal-hal baru. Pada tahun 1693, ia menyebrangi Samudra Pasifik dari Manila menuju Acapulco, dan menjejakkan kakinya di Amerika Selatan serta Asia Utara. Perjalanan tersebut memakan waktu lima tahun dan 254 hari. Saat pulang ke Italia, dia menerbitkan laporan ekspedisinya. Begitu lakunya buku tersebut sampai harus dicetak ulang lima kali. Bahkan novel Around the World in 80 Days karangan Jules Verne disebut-sebut mengambil inspirasi dari kisah Giovan.

Hari ini, perjalanan Giovan Careri telah melegenda di kalangan pecinta travelling. Namun kisahnya masih terus menginspirasi jiwa-jiwa petualang untuk memanggul ransel mereka dan menjelajahi dunia. Jadi, apa anda pun tertantang untuk mengikuti jejak Giovan Careri?


sumber gambar
referensi: Jelajah Dunia dengan Ransel
oleh Bernadeta diah Aryani
Bonus RDI Juni 2008

Selasa, 21 September 2010

Di Negara ini, jumlah sarjana (S1) yang menganggur meningkat dari tahun ke tahun. Sementara itu, bagi mereka yang sudah bekerja pun, persaingan di dunia kerja ke depan akan semakin ketat. Bagi mereka yang berkemampuan lebih, mengambil kuliah S2 untuk mempersenjatai diri dalam persaingan tersebut tentu bukan masalah. Namun, apakah gelar S2 memang menjadi kebutuhan bagi anda untuk memenangkan kompetisi?


Nilai lebih
Kuliah S2 memang dapat melatih logika seseorang dan mengasah kecerdasan. Selain itu, kuliah S2 juga membantu memperluas jejaring. Berbeda dengan mahasiswa S1 yang masih 'baru gede', mahasiswa S2 kan rata-rata sudah bekerja dan lebih dewasa, sehingga hubungan dengan rekan sesama mahasiswa S2 sifatnya lebih terarah dan berorientasi keprofesian.

Soal kompensasi materi, asalkan faktor-faktor lain juga mendukung, seorang yang bergelar S2 akan mendapat nominal yang lebih tinggi dibanding lulusan S1. Itu karena lulusan S2 dinilai lebih menguasai lingkup kerja, metodologi dan mekanisme sistem yang berjalan.


Meningkatkan Karier
Sudah menjadi pendapat umum bahwa memiliki gelar S2 akan menjadi jalan pintas untuk meningkatkan karier dan pendapatan. Tapi apakah benar demikian?

Sebenarnya, pada tingkat manajerial, gelar S2 memang diakui menjadi nilai tambah; tapi itu tak pernah menjadi dasar perekrutan karyawan. Bahkan pada posisi management trainee atau entry level, justru tidak ada perbedaan antara lulusan S1 dan S2. Yang lebih ditekankan adalah faktor karakter dan kompetensi, serta chemistry yang terbentuk antara si pelamar dengan perusahaan.

Memang di Indonesia ada beberapa perusahaan, terutama BUMN, yang menerapkan perbedaan gaji dan jabatan bagi lulusan S1 dan S2. Di sana, gelar akademik berlaku sebagai syarat untuk memperoleh promosi jabatan. Tapi perusahaan seperti itu tidak banyak, jadi secara umum gelar S2 tidak menjamin peningkatan gaji atau jabatan.

Beberapa tahun yang lalu, permintaan lulusan S2 untuk entry level memang sempat tinggi. Namun sekarang permintaan tersebut menurun, seiring dengan disadarinya kenyataan bahwa kinerja mereka dianggap sama dengan lulusan S1.


Mengejar pendidikan formal setinggi mungkin memang penting, terutama di era global ini. Namun gelar akademik yang lebih tinggi tidak menjamin anda akan mendapatkan karier yang lebih baik. Sebab bagaimanapun, yang dinilai dalam dunia kerja adalah keterampilan anda bekerja dan kecakapan anda membina hubungan dengan badan di mana anda bekerja. Karena itu, apapun jenjang pendidikan yang anda ambil, pastikan anda membarenginya dengan pembentukan kepribadian dan pengasahan keterampilan nyata.


sumber gambar
referensi: Kejar Karier, Gelar S2 Kutangkap
oleh Antono N. Purnomo
Bonus RDI April 2008