Sabtu, 02 Oktober 2010


-->
oleh Thiska Septa Maiza

sebelumnya dipublikasikan pada
05 May 2010 at 00:44

Jika hari ini adalah penyudahan
maka aku akan sangat merindu
pada matahari yang bersinar
dan hari-hari yang diteranginya;


Maka dengarkanlah wahai hati yang membeku,
aku dan rindu telah terpisah jauh dalam jeda,
telah lelah diri berpura-pura,
terkikis habis semua daya.


Jika hari ini adalah penyudahan
maka biarkan aku melebur
dalam hitam legam udara malam.




-->
Catatan editor
oleh T. S. Frima

Sebagaimana yang jamak terjadi, bila dalam sebuah produksi kuantitas meningkat, kualitas akan cenderung menurun sebagai kompensasinya. Hal ini pun bisa berlaku dalam menulis. Semakin banyak karya yang dibuat oleh seorang penulis dalam rentang waktu yang singkat, semakin besar kemungkinan ia terjebak pada jejak nuansa karya-karya sebelumnya, sehingga diksinya menjadi tumpul. Meskipun begitu, di sisi lain produktifitas yang tinggi bisa juga disamakan dengan upaya berlatih yang giat. Dan semakin seseorang terlatih atau terbiasa mengerjakan sesuatu, intuisinya akan aspek-aspek tertentu dari pekerjaan itu akan semakin tumbuh.
Thiska Septa Maiza adalah seorang penulis yang sangat produktif—setidaknya dibandingkan rekan-rekannya. Dalam rentang satu semester, dia bisa menyelesaikan belasan atau bahkan puluhan fiksi dan puisi. Jelaslah bahwa ia seorang yang bergaya hard work-er. Sekarang mari kita telaah salah satu puisinya yang berjudul Jika.

Dari segi judul, meletakkan kata ‘jika’ sungguh tindakan yang cerdik untuk menarik perhatian pembaca. Kata ‘jika’ adalah gerbang bagi hal-hal yang belum terjadi, tetapi sudah diandaikan terjadi. Ketika melihat judulnya, pembaca menjadi penasaran akan objek yang diandaikan, dan menanti ‘maka’ apa yang tersedia sebagai kelanjutannya.
Tapi sayang sekali ternyata bait-bait sebagai tubuh sajak ini tak mampu mempertahankan rasa penasaran itu dalam benak pembaca.
Bait pertama langsung menyuguhkan pernyataan verbal, yang sudah pasti diinsafi semua orang. Meskipun kata-kata ‘jika hari ini adalah penyudahan/ maka aku akan sangat rindu/ pada matahari yang bersinar/ dan hari-hari yang diteranginya’ bisa merujuk pada macam-macam akhir, namun logika kalimatnya terlalu gamblang dan tidak membutuhkan penafsiran. Bukankah bagi siapapun, jika ini hari terakhir dari sesuatu, ia pasti akan merindukan hari-hari yang lalu saat sesuatu itu berlangsung?

Bait kedua dituliskan dengan cukup baik dengan menggunakan beberapa jenis majas. Baris pertamanya yang berbunyi ‘maka dengarlah wahai hati yang membeku,’ memakai gaya apostrophe; yaitu gaya yang menyebut sebuah benda seakan subjek dalam puisi sedang berbicara padanya secara langsung, seakan-akan benda itu adalah orang yang bisa diajak berbicara. Baris ke-dua memakai majas personifikasi. Dalam kalimat ‘aku dan rindu telah terpisah jauh’, rindu seakan-akan adalah orang yang setara dengan ‘aku’.
Sayangnya bait ini juga memuat death metaphor, yaitu metaphor yang telah kehilangan nilai figuratinya karena sudah terlalu biasa dipakai. Kata-kata ‘telah habis semua daya’ adalah kata-kata yang sudah sangat umum dipakai, tidak hanya dalam puisi tetapi juga dalam lirik lagu.
Begitupun dalam baris terakhir bait terakhir, kata-kata ‘hitam legam’ dan ‘malam’ juga sudah terlalu sering dipakai secara serangkai, sehingga kemunculannya sebagai satu baris dapat memicu kebosanan.

Sebenarnya puisi ini cukup kuat dalam hal tema dan nuansa. Pengandaian dan sikap melankolis seseorang saat menghadapi suatu akhir adalah hal universal yang dapat menyentuh perasaan siapa saja. Apakah itu akhir hidup, akhir penantian, ataukah akhir kebersamaan? Terlepas dari isinya, tampak bahwa penulis memiliki intuisi yang peka dalam memilih tema dan nuansa. Namun bagaimanapun, intuisi saja tidak cukup. Ketumpulan dalam mengatur diksi justru akan merusak tema menjadi hambar dan mengesankan kedangkalan pada nuansa yang coba dibangun. Itulah sebab, alangkah baiknya seorang penulis berlatih secara proporsional, berimbang dan teratur, sehingga tidak hanya intuisinya terbangun tetapi juga keterampilannya terasah.

Tulisan ini telah mengalami proses editing oleh admin Cermin Community. Untuk melihat versi awal dari tulisan ini, silahkan kunjungi laman ini.

Sabtu, 25 September 2010

Menjelajah atau liburan dengan bermodal ransel dan dana minimal, yang populer disebut sebagai backpacking ternyata kini semakin digandrungi. Komunitasnya tumbuh mendunia dan forum-forum diskusinya subur berkembang bak cendawan di musim hujan. Rupanya kegiatan yang satu ini memang murah meriah, menantang dan mengasyikkan. Tapi, bagaimana sebenarnya asal-usul backpacking?

Pada 1970-an, ketika kaum Hippie sedang berkembang, mereka melakukan perjalanan menyebrangi benua Eropa. Mereka menelusuri Eropa sampai ke kota-kota tua Asia dengan tujuan mencari Tuhan, menemukan diri sendiri dan berinteraksi dengan orang lain. Konon yang mengilhami perjalanan mereka adalah sejarah ekspedisi perdagangan Jalur Sutra. Ekspedisi itu mengambil rute menyebrangi Mesir, Mesopotamia, Persia, India sampai ke Cina.
Para kafilah pada masa itu tidak hanya melakukan perdagangan tetapi juga penyebaran agama dan pertukaran budaya.


Selain latar belakang tersebut, sejarah travelling kerap menyebut nama Giovan Francesco Gamelli Careri. Ia dikenal sebagai backpacker pertama. Giovan adalah seorang warga Italia yang bekerja di sebuah pengadilan. Merasa tak puas dengan hidupnya dan dipicu oleh rasa ingin tahu yang besar, Giovan berhasrat menjelajahi dunia dalam rangka menemukan hal-hal baru. Pada tahun 1693, ia menyebrangi Samudra Pasifik dari Manila menuju Acapulco, dan menjejakkan kakinya di Amerika Selatan serta Asia Utara. Perjalanan tersebut memakan waktu lima tahun dan 254 hari. Saat pulang ke Italia, dia menerbitkan laporan ekspedisinya. Begitu lakunya buku tersebut sampai harus dicetak ulang lima kali. Bahkan novel Around the World in 80 Days karangan Jules Verne disebut-sebut mengambil inspirasi dari kisah Giovan.

Hari ini, perjalanan Giovan Careri telah melegenda di kalangan pecinta travelling. Namun kisahnya masih terus menginspirasi jiwa-jiwa petualang untuk memanggul ransel mereka dan menjelajahi dunia. Jadi, apa anda pun tertantang untuk mengikuti jejak Giovan Careri?


sumber gambar
referensi: Jelajah Dunia dengan Ransel
oleh Bernadeta diah Aryani
Bonus RDI Juni 2008

Selasa, 21 September 2010

Di Negara ini, jumlah sarjana (S1) yang menganggur meningkat dari tahun ke tahun. Sementara itu, bagi mereka yang sudah bekerja pun, persaingan di dunia kerja ke depan akan semakin ketat. Bagi mereka yang berkemampuan lebih, mengambil kuliah S2 untuk mempersenjatai diri dalam persaingan tersebut tentu bukan masalah. Namun, apakah gelar S2 memang menjadi kebutuhan bagi anda untuk memenangkan kompetisi?


Nilai lebih
Kuliah S2 memang dapat melatih logika seseorang dan mengasah kecerdasan. Selain itu, kuliah S2 juga membantu memperluas jejaring. Berbeda dengan mahasiswa S1 yang masih 'baru gede', mahasiswa S2 kan rata-rata sudah bekerja dan lebih dewasa, sehingga hubungan dengan rekan sesama mahasiswa S2 sifatnya lebih terarah dan berorientasi keprofesian.

Soal kompensasi materi, asalkan faktor-faktor lain juga mendukung, seorang yang bergelar S2 akan mendapat nominal yang lebih tinggi dibanding lulusan S1. Itu karena lulusan S2 dinilai lebih menguasai lingkup kerja, metodologi dan mekanisme sistem yang berjalan.


Meningkatkan Karier
Sudah menjadi pendapat umum bahwa memiliki gelar S2 akan menjadi jalan pintas untuk meningkatkan karier dan pendapatan. Tapi apakah benar demikian?

Sebenarnya, pada tingkat manajerial, gelar S2 memang diakui menjadi nilai tambah; tapi itu tak pernah menjadi dasar perekrutan karyawan. Bahkan pada posisi management trainee atau entry level, justru tidak ada perbedaan antara lulusan S1 dan S2. Yang lebih ditekankan adalah faktor karakter dan kompetensi, serta chemistry yang terbentuk antara si pelamar dengan perusahaan.

Memang di Indonesia ada beberapa perusahaan, terutama BUMN, yang menerapkan perbedaan gaji dan jabatan bagi lulusan S1 dan S2. Di sana, gelar akademik berlaku sebagai syarat untuk memperoleh promosi jabatan. Tapi perusahaan seperti itu tidak banyak, jadi secara umum gelar S2 tidak menjamin peningkatan gaji atau jabatan.

Beberapa tahun yang lalu, permintaan lulusan S2 untuk entry level memang sempat tinggi. Namun sekarang permintaan tersebut menurun, seiring dengan disadarinya kenyataan bahwa kinerja mereka dianggap sama dengan lulusan S1.


Mengejar pendidikan formal setinggi mungkin memang penting, terutama di era global ini. Namun gelar akademik yang lebih tinggi tidak menjamin anda akan mendapatkan karier yang lebih baik. Sebab bagaimanapun, yang dinilai dalam dunia kerja adalah keterampilan anda bekerja dan kecakapan anda membina hubungan dengan badan di mana anda bekerja. Karena itu, apapun jenjang pendidikan yang anda ambil, pastikan anda membarenginya dengan pembentukan kepribadian dan pengasahan keterampilan nyata.


sumber gambar
referensi: Kejar Karier, Gelar S2 Kutangkap
oleh Antono N. Purnomo
Bonus RDI April 2008

Selasa, 31 Agustus 2010

Seluruh agama yang kita kenal di dunia ini, selalu menganjurkan umatnya untuk hidup damai berdampingan. Salah satu caranya ialah melalui sikap saling memaafkan. Namun meskipun maaf adalah kata yang sederhana, nyatanya memaafkan seringkali sulit dilakukan. Padahal kalau bisa menerapkannya, dampaknya sangat dahsyat. Selain memberi dampak psikologis berupa ketenangan jiwa, memaafkan akan memberi dampak medis berupa meningkatnya daya tahan tubuh sehingga tubuh bisa menangkal berbagai penyakit yang mungkin datang, dan pada akhirnya memperpanjang usia.

Sebuah penelitian oleh psikolog dari Virginia Commonwealth University, Worthington, Jr. pada tahun 2005 menunjukkan efek dari sikap memaafkan terhadap tubuh manusia. Ternyata aktifitas otak, pola hormone dan komposisi zat kimia dalam darah orang yang tidak memaafkan sama dengan keadaan orang yang sedang stress. Selain itu, ada kecenderungan dalam peningkatan kekentalan darah, tekanan darah dan penegangan otot. Kondisi ini jelas berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan. Sedangkan pada orang yang memaafkan, kondisi yang muncul adalah sebaliknya.



Psiko-neuro-imunologi
Ilmu kedokteran modern telah mengakui dan membuktikan bahwa pikiran, perasaan dan tubuh itu sejalan. Hal ini dipelajari dalam bidang ilmu yang khusus mengenai kejiwaan, saraf dan kekebalan tubuh yang disebut psiko-neuro-imunologi.

Sering kita alami saat datang rasa marah, sedih, benci, cemas dan segala perasaan tidak menyenangkan, nafas kita menjadi pendek-pendek atau bahkan tersengal. Kadang bahkan muncul gejala yang lebih, seperti berkeringat dingin, jantung berdetak kencang, sakit perut atau diare. Namun ketika diperiksa, tidak akan ditemukan penyakit tertentu yang sedang menyerang si penderita. Gejala ini dikenal sebagai gejala psikosomatis. Ia disebabkan oleh pikiran manusia yang beraksi pada amarah dan stress dengan memproduksi hormon adrenalin dan kortisol secara berlebihan.

Pada kenyataanya, otak memang merupakan pusat pengendali semua sistem tubuh. Jadi dapat disimpulkan bahwa apa pun yang mempengaruhi pikiran dan perasaan akan mmempengaruhi sistem kekebalan dan fungsi tubuh pada umumnya. Nah, saat seseorang bisa menetralisir emosi negatif seperti amarah dan kebencian pada orang lain dengan memaafkannya, maka ia telah menghadirkan pikiran dan perasaan positif bagi dirinya sendiri, yang kemudian akan memperbaiki keadaan tubuhnya.

Jadi, sudahkah anda memaafkan hari ini?

Minggu, 15 Agustus 2010

Buah kakao dapat dikonsumsi dengan dua cara: pertama ia dapat langsung dimakan daging buah segarnya yang sudah matang, kedua ia dapat diolah menjadi coklat dan produk turunannya untuk kemudian dinikmati.
Selain rasa nikmatnya yang khas dan aromanya yang menggugah, ternyata kakao cukup bergizi dan baik bagi kesehatan. Secara umum ada tiga manfaat utama dari mengkonsumsi kakao dan coklat, yaitu menangkal radikal bebas, mengatasi insomnia, juga membangkitkan mood dan vitalitas.

Khasiat coklat sebagai antioksidan dikarenakan biji kakao mengandung antioksidan flavonoid yang berguna untuk menahan radikal bebas. Khasiat antioksidan yang terkandung dalam flavonoid dalam biji kakao sebanding dengan 6 apel atau 4,5 cangkir teh. Semakin besar kandungan kakao dalam sebuah coklat, semakin besar pula khasiat antioksidannya. Untuk mengetahui kadar antioksidan dalam coklat, dapat dilihat pada komposisi yang tertera pada kemasan produk coklat atau dapat pula dari warna produk coklat itu sendiri; semakin gelap suatu coklat, semakin besar kadar kakao yang terkandung di dalamnya.

Coklat juga berkhasiat membantu tubuh beristirahat atau mengatasi insomnia. Khasiat ini berasal dari protein yang terkandung dalam biji kakao, yaitu protein yang kaya akan asam amino triptofan, fenilalanin dan tyrosin. Mengkonsumsi coklat menjelang beristirahat dapat menurunkan tekanan darah sekaligus merelaksasi tubuh dan pikiran.

Manfaat lainnya adalah, coklat mampu mensuplai kalsium dan magnesium untuk tubuh, yang berkhasiat menjaga vitalitas. Kakao juga mengandung alkaloid yang sebagian besar berjenis theobromine, yang selain lezat rasanya juga mempunyai efek membangkitkan mood.

Namun produk coklat di pasaran banyak yang telah bercampur dengan susu, sehingga cenderung menghasilkan banyak lemak. Itulah sebabnya coklat batangan dengan kadar susu yang tinggi sebaiknya dihindari karena bisa mengakibatkan obesitas. Alangkah baiknya setelah mengkonsumsi coklat anda banyak mengkonsumsi air putih. Selain untuk menyamankan mulut dan kerongkongan, minum cukup air juga bertujuan menghindari penyakit batu ginjal.

Intinya, asalkan kita jeli mengkonsumsi kakao dan coklat yang sesuai kebutuhan tubuh secara proporsional, kita akan mendapatkan manfaatnya secara optimal.

Rabu, 11 Agustus 2010

Kakao, atau Theobroma cacao, merupakan salah satu tumbuhan yang pembudidayaannya sedang digalakkan di Indonesia. Aslinya, kakao berasal dari Amerika Selatan. Dari biji tumbuhan ini dihasilkan produk olahan yang kita kenal sebagai coklat.

Kakao adalah tumbuhan berbentuk pohon yang berbuah sepanjang tahun. Di alam, pohon kakao dapat tumbuh sampai 10 meter. Bunga dan buah kakao tumbuh langsung dari batangnya. Penyerbukan bunga kakao umumnya dibantu oleh serangga, namun ada juga varietas yang mampu melakukan penyerbukan sendiri.

Kakao sebagai komoditas perdagangan basanya dibedakan menjadi dua kelompok utama: kakao mulia (edel cacao), dan kakao curah (bulk cacao). Meskipun produksi kakao curah biasanya lebih banyak, namun kualitas dan harganya justru lebih rendah disbanding kakao mulia. Yang menentukan kualitas dan harga ini bukanlah rasanya, melainkan kandungan lemaknya.

Menurut data panen tahun 2005, Indonesia adalah negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading (38%) dan Ghana (19%), yaitu mencapai 13% dari total kakao yang ada di pasaran.

Tidak seperti sawit, harga kakao lebih stabil, sehingga resiko bagi petani lebih kecil. Budidaya kakao pun lebih mudah dan tidak memerlukan biaya yang besar. Karena itu bertanam kakao dapat menjadi alternatif usaha yang dapat meningkatkan taraf hidup para petani. Asalkan memahami cara merawatnya, kakao dapat menjadi jembatan menuju pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Selasa, 20 Juli 2010




Semua yang pertama, pasti menjadi catatan dan meninggalkan kesan mendalam. Contohnya, semua orang pasti tahu siapa yang pertama menjejak Bulan, atau yang pertama menciptakan lampu pijar. Begitu pun dalam tiap perhelatan Piala Dunia. Para first scorer dalam Piala Dunia adalah orang-orang yang akan selalu tercatat sejarah, sebab mereka mampu membuat stadion panas bahkan ketika pemain lain baru mulai memanaskan kaki. Merekalah orang-orang yang membuat semangat berlaga dan rasa percaya diri team melonjak naik, sekaligus menjatuhakan mental dan membungkam pendukung lawan.

SIPHIWE TSHABALALA (Piala Dunia 2010)
Afrika Selatan sebagai tuan rumah boleh jadi bertambah kebanggaanya, sebab gol pembuka Piala Dunia kali ini dicetak sendiri oleh salah satu pemainnya. Adalah Lawrence Siphiwe Tshabalala dari team Bafana Bafana yang pada menit 55 berhasil menggetarkan jaring gawang Meksiko di babak penyisihan grup B.
Pemain kelahiran Soweto, Afsel pada 25 September 1984 itu merupakan sosok pemain yang terkenal dengan kecepatan dan kontrol bolanya yang baik sehingga bisa merepotkan lini pertahanan lawan. Kehebatannya itu menjadikan ia pilihan utama di skuad Bafana Bafana semenjak 2006 lalu.
Karena penampilannya yang cukup gemilang itu, iapun dijuluki "Zinedine Zidane kedua", sekaligus dinobatkan sebagai man of the match pada pertandingan antara Afrika Selatan melawan Meksiko tersebut.

PHILIPP LAHM (Piala Dunia 2006)
Walaupun tubuhnya terbilang kecil (170) untuk ukuran pemain bola internasional, ternyata Philipp Lahm sanggup mengungguli pemain bertubuh lebih besar dalam urusan mencetak gol. Bek sayap Jerman ini menjebol gawang Kosta Rika di menit ke-enam pertandingan perdana Piala Dunia, 9 Juni 2006. Dia mencoba menusuk dari sisi kanan pertahanan lawan, mengecoh dua pemain belakang, dan melepaskan tendangan melengkung ke arah tiang jauh gawang. Tendangan yang begitu deras membuat kiper Jose Porras tidak mampu berbuat banyak. Dan sekitar 66 ribu penonton yang memadati stadion Allianz Arena, Munich, Jerman pun membahana menyambut gol indah tersebut.

BOUBA DIOUP (Piala Dunia 2002)
Stadion Seoul, Korea, menjadi saksi penampilan memukau dari team Senegal yang kala itu dianggap anak bawang. Dengan permainan kolektif yang pantang menyerah, mereka berhasil menandingi team unggulan Prancis yang awalnya tampak mendominasi permainan. Sedikit kesalahan oleh pemain Prancis dioptimalkan oleh Senegal untuk mencuri bola dan melakukan serangan balasan. Adalah Bouba Dioup yang berlari dari tengah lapangan untuk memanfaatkan umpan dari El Hadji Diouf. Sambil menjatuhkan badan, Bouba Dioup sukses meloloskan bola dari pemain belakang dan kiper Prancis. Tanggal 31 Mei 2002 itu, 62 ribu penonton bersorak riuh mengapresiasi prestasi team anak bawang Senegal yang mampu menakhlukkan team sebesar Prancis.

Sabtu, 15 Mei 2010


-->
oleh Muhammad Adek

Sebelumnya dipublikasikan pada
11 April 2010 at 22:58

Kau,
yang terlahir kembali
seperti cetak biru,
pada raga yang anomali.


Kau,
yang mungkin hanya pengulangan
dari dia,
tiruan dari segala macam tiruannya,
keserasian bentuk ragaannya.


Kau,
yang kutulis lagi,
diatas kenangan yang tertumpuk mati.
Kuharap kau
sanggup menyiasati
bayang-bayang dia,
yang berdikari bagai
Matahari.


-->
Catatan editor
oleh T. S. Frima

Sajak berjudul Matahari oleh Muhammad Adek ini cukup mudah dinikmati dan dipahami karena memakai rima yang jelas dan majas yang gamblang.
Dari segi bentuk, agaknya sajak ini dapat digolongkan sebagai free verse, sebab tidak ditemukan pola matrikal yang tetap di dalamnya baik dari segi silaba maupun rima. Satu-satunya yang menjadi pola adalah, setiap bait selalu diawali kata ‘kau’ yang berdiri sendiri di baris pertama.

Dengan menyebutkan ‘kau’ secara berulang dan memberinya posisi yang mencolok, sekilas tampak bahwa penyair ingin menjadikan ‘kau’ sebagai pusat sajaknya. Tapi benarkah demikian?
Pada bait pertama, pembaca diperkenalkan pada tokoh ‘kau/ yang terlahir kembali’. Kata ‘kembali’ menunjukkan sebuah proses pengulangan; artiya, sebelumnya ‘kau’ sudah pernah lahir, dan kita terlahir (atau dilahirkan?) lagi. Pada baris ketiga, kata ‘cetak biru’ (blue print) secara literal berarti desain yang dipedomani untuk membuat suatu benda. Sedangkan pada baris keempat, kata ‘anomali’ berarti aneh, ganjil atau tak normal.
Bait pertama ditulis sebagai satu kalimat yang dipotong-potong. Secara struktur, kalimat tersebut memiliki klausa utama yang berbunyi ‘kau seperti cetak biru pada raga yang anomali’, dan disisipi oleh frase keterangan ‘yang terlahir kembali’ yang sifatnya tambahan. Dari sini, kita dapat memahami bahwa ‘kau’ berasal dari sebuah desain yang sekali lagi terwujudkan kedalam tubuh yang nyata, namun tubuhnya kali ini terlihat ganjil dan aneh.

Bait ke-dua masih menyoroti ‘kau’, kali ini dengan keterangan yang lebih verbal. Baris ke-duanya yang berbunyi ‘yang mungkin hanya pengulangan’ adalah penegasan dari baris ke-dua pada bait sebelumnya yang menyebut ‘terlahir kembali’. Baris ketiga yang berbunyi ‘tiruan dari segala tiruannya’ mengingatkan kita pada pendapat Plato dalam buku Republic.
Pada bab kesepuluh dalam buku tersebut, Plato berargumen bahwa dunia ini terdiri dari dua bagian: dunia ide dan dunia benda. Ide bagi Plato adalah cetak biru atau desain universal dari semua benda yang ada di alam; dan karenanya ide tersebut adalah milik Tuhan. Misalnya, ada begitu banyak kuda di dunia, tapi semua kuda berbentuk sama, itu karena semua kuda berasal dari ‘cetakan ide’ yang sama; meskipun dalam detail ada ukuran yang berbeda dari kuda yang satu ke yang lain. Begitu pula tentang tempat tidur; meskipun bervariasi dalam ukuran dan ornamen, tapi semua tempat tidur memiliki bentuk dasar yang sama, dengan empat kaki dan bagian lebar untuk menopang tubuh manusia. Dengan demikian, benda-benda kongkrit adalah tiruan dari ide. Lalu, yang disebut Plato sebagai tiruan dari tiruan adalah karya seni. Misalnya, lukisan tempat tidur adalah tiruan dari ‘benda tempat tidur’ yang sebenarnya; sedangkan ‘benda tempat tidur’ itu sendiri adalah tiruan dari ‘ide tempat tidur’.
Berdasarkan keterangan ini, kata-kata ‘kau,/ yang mungkin hanya pengulangan/ dari dia,/ tiruan dari segala macam tiruannya,’ menunjukkan bahwa ‘kau’ adalah sebuah karya seni, bukan benda kongkrit.
Bait ini juga memperkenalkan kita pada tokoh ‘dia’ yang memiliki ‘keserasian bentuk ragaan’ dan merupakan benda kongkrit yang coba ditiru oleh ‘kau’.

Bait ke-tiga memainkan fungsinya sebagai penutup dengan menjelaskan arti ‘kau’ dan ‘dia’ bagi ‘aku’ lirik. ‘Kau,/ yang kutulis lagi,/ di atas kenangan yang tertumpuk mati,/’ pada baris satu sampai tiganya mengindikasi bahwa ‘kau’ adalah sesuatu yang dicipta ‘aku’ secara sengaja. Sedangkan kata-kata ‘Kuharap kau/ sanggup menyiasati/ bayang-bayang dia,/ yang berdikari bagai/ Matahari./’ menjelaskan motif ‘aku’ membuat ‘kau’, yaitu untuk menanggulangi ‘bayang-bayang dia’ yang selalu hadir begitu kuat dan tak bisa disangkal, selayaknya ‘matahari’.

Dari penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa ‘dia’ adalah sosok yang penting bagi ‘aku’. Namun ‘dia’ sudah bukan lagi sesuatu yang ada bagi ‘aku’; ‘dia’ tinggal bayang-bayang dan lekatan pada ingatan. Sebagai pelarian, ‘aku’ menciptakan ‘kau’ berdasarkan citra ‘dia’ selaku cetakan. Meskipun ‘kau’ hanya tiruan yang tidak sesempurna sosok aslinya, dengan naif ‘aku’ tetap berharap ‘kau’ dapat mengalihkannya dari ‘dia’.
Jelaslah bahwa sebenarnya yang menjadi pusat dari sajak ini adalah ‘dia’, yang sudah bagaikan matahari bagi ‘aku’. Itulah sebab Matahari diletakkan sebagai judul, sebagai penunjuk dari sentra cerita.

Tulisan ini telah mengalami proses editing oleh admin Cermin Community. Untuk melihat versi awal dari tulisan ini, silahkan kunjungi laman ini.