Rabu, 29 September 2010


-->
Oleh T. S.Frima
Sebelumnya dipublikasikan pada
19 September 2010


Kamu berdiri di sana,
Di belakang kilauan maya yang datang entah dari mana.
Tak hirau pada ranting-ranting yang merangas,
Kulihat kamu memandangi tangan sendiri, bertanya:
Bisakah Ia, kemilau itu, digenggam?
Dalam tertegun-mu, waktu berlalu
Dan dengan angkuhnya kamu percaya, bahwa kamu bisa selamanya ada di sana:
Terus bertanya-tanya.


Apakah hujan, ataukah salju,
Kemurnian alam yang dingin menerjangmu
Mengantarmu pada hidup yang rapih:
Lingkaran sempurna yang menghampar,
Yang sama sekali tak bisa kujejaki.

Dan di langitmu selengkung senyum memancar;
Sekali lagi kamu bertanya: bisakah Ia kamu petik?
Sedang bagiku semuanya adalah anomali.

Malam menjelang, kelip menggugus.
Tak bisa kubedakan, mereka gemintang atau pendar lampu jalan.
Namun pada gugusan yang sejernih cermin itu
Terpantul wajah yang pernah kita kenal.
Hanya saja bagimu, saat ini semuanya asing;
Seluruh malam telah disusupi aura yang aneh,
Semacam kabut samar-tipis, menyelip diantara laut dan langit.
Cahaya dan Kegelapan telah memudar bersamaan.


Kamu masih berdiri di sana,
Di dermaga tua yang melapuk—melepas nyawa.
Tumpuannya telah runtuh di kaki fajar, meninggalkan lembar-lembar papan hanyut;
Sisa-sisa impianmu pun tenggelam;
Dan surya mengakhiri semuanya.
Semuanya, Ren.



Catatan:
Tulisan ini telah mengalami proses editing oleh admin Cermin Community, dengan persetujuan penulis aslinya.
Categories:

5 komentar pembaca :

Adek mengatakan...

nada2 patah hati mas .. hahaha

Diva mengatakan...

Ckck..dermaga, laut..
Hhmm..

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

keren.keren.

Aulawi Ahmad mengatakan...

puisi yg bagus :)

Aulawi Ahmad mengatakan...

puisi yang bagus :)